BERAKHIR DALAM GELAP
Cerpen
by: Jeremia Candra
Namanya Zel, ya, Zel Tamara.
Salah satu siswi SMA Negeri di daerah Jakarta. Teman sekelas gua yang juga
kebetulan rumahnya deket dengan gua. Oh ya, gua Deon. Pendiem, ga suka banyak
orang, ga punya banyak teman dan itulah yang membuat gua berbeda dengan Zel.
Zel suka bergaul, bahkan dikenal asik dikalangan sekolah. Zel adalah murid
terpintar di kelas dan bahkan dibanggakan sekolah. Gua kenal Zel saat pertama
masuk SMA ini dan sekarang gua lumayan tau banyak tentang dia.
Zel punya pacar, tapi bukan anak
SMA disini. Namanya Ervin, tiap pulang sekolah Zel selalu dia jemput. Ervin
beda jauh dengan Zel, bisa dibilang dia anak berandalan dan itu lah yang
membuat gua bingung kenapa Zel mau sama dia.
Di hari Rabu ini, gua
dan Zel punya jadwal piket yang sama. Zel ga pernah malu buat mulai obrolan
dengan orang lain.
“Deon, piket bersihin
lantai yaa.” Kata Zel sambil menyodorkan sapu
Gua yang lagi bengong
hanya mengangguk
Zel yang melihat itu,
kesal dan menjewer telinga gua
“Deonnn.. kau dengar
tidak sih?” tanya Zel teriak
“Ehh.. iya dengar,
baiklah aku sapu”
Seperti itu lah Zel, orang yang selalu asik dan bawel.
Jam istirahat tiba, Zel selalu bersama teman-temannya yang lain
sementara gua hanya duduk diam sampai bel istirahat kembali bunyi. Zel melirik
ke arah gua dan tersenyum sedikit. Gua yang menyadari itu, jadi sedikit salah
tingkah.
Zel kemudian
menghampiri gua dan langsung menarik tangan gua.
“Ayoo.. ikutlah
denganku”
“Haa.. mau kemana?”
tanya gua heran
“Sudah ikut saja”
Zel mengajak gua pergi ke
rooftop sekolah, sepertinya dia tau kalau gua selalu kesepian.
“Deon, berubahlah..
jangan menjadi orang pemurung, jangan menjadi orang yang terlihat lemah” kata
Zel teriak
“Aku tak mau melihat
kau seperti ini, berusahalah”
Gua yang mendengar
itu, kagum terhadap Zel.
“Aku bisa menjadi
teman dekatmu jika kau mau” ucap Zel sambil memegang tangan gua
Gua pun hanya terdiam
mengiyakan. Dalam hati, gua berpikir apa yang membuat Zel bisa bersama Ervin.
“Kau tahu Ervin kan?
Dia.. jahat sekali yaa” kata Zel sedikit
tersenyum
Gua yang mendengar itu
langsung bertanya
“Jahat? Maksudnya?”
“Iyaa.. dia tidak
sepertimu, dia berisik dan selalu mengekangku”
“Lalu.. apa yang
membuatmu masih ingin bersamanya?” tanya gua
Zel hanya melirik dan tersenyum.
Bel masuk kemudian berbunyi dan
kami pun kembali ke kelas. Senyuman Zel tadi makin membuat gua penasaran.
Mungkin ada saatnya gua untuk tahu nanti. Sore tiba, saatnya untuk pulang.
Setelah merapikan bukunya, Zel menghampiri gua.
“Ingat kata-kata ku
yang tadi, itu untuk kebaikanmu” kata Zel mengancam
Setelah itu Zel
mengajak untuk turun bersama. Di gerbang sekolah, terlihat Ervin sudah menunggu
dengan mobil hitamnya. Ya, orangtua Ervin adalah Boss di salah satu perusahaan
ternama.
Setelah sampai di
gerbang sekolah, Ervin melihat ke arah gua seakan seperti jagoan. Lalu Ervin
menyuruh Zel masuk.
“Cepat masuk” suruh
Ervin cuek
“Baiklah, sampai
bertemu besok jagoan” kata Zel sambil melambaikan tangan ke arah gua.
Ervin yang melihat
itu, terlihat cemburu dan langsung meninggalkan gua sendiri di gerbang sekolah.
Di perjalanan, Ervin
bertanya kepada Zel.
“Ada hubungan apa lu
sama Deon?” tanya Ervin kesal
“Ah tidak, kami cuman
teman” kata Zel tersenyum
“Awas lu ya
macem-macem, tau sendiri akibatnya”
Zel hanya tersenyum mendengar
itu. Tak berapa lama, sampai lah di rumah Zel.
“Terimakasih telah
mengantarku, maaf merepotkan” kata Zel tersenyum
Ervin langsung pergi
tanpa menggubris omongan Zel.
Malam tiba, Zel berbaring di kasurnya sambil
sedikit menangis. Zel mengambil handphone miliknya lalu mengirim pesan ke nomor
gua.
“Bagaimana kabarmu, aku harap kau selalu bersemangat dan tersenyum”
Gua yang melihat pesan
itu langsung memberanikan diri menghubungi Zel.
“Ada apa Zel? Apa yang
terjadi?” tanya gua panik
“Tidak, aku hanya
ingin mengirim pesan kepadamu” kata Zel dengan suara sedih
“Kau yakin? Kau
terdengar menangis.. ada apa Zel?”
“Tidak yaampun..
sudahlah aku ingin tidur”
Zel langsung mematikan telpon
tanpa memberi tahu apa yang terjadi. Di malam itu, gua ga bisa tidur karna
terus memikirkan Zel. Esok hari tiba, di sekolah, Zel terlihat baik-baik saja.
“Istirahat nanti ikut
denganku lagi yaa” ajak Zel
Gua pun hanya
mengangguk.
Istirahat tiba, Zel
langsung menarik tangan gua dan mengajak ke rooftop lagi.
“Bagaimana, kau sudah
berubah belum?” tanya Zel
“Ah.. aku.. tidak mau
membahas itu..” jawab gua pelan
“Aku ingin bertanya
sesuatu, bolehkah?”
“Ehmm baiklah,
tanyakan saja” kata Zel mengangguk
“Sebenarnya apa yang
terjadi semalam itu.. jika kau mau bercerita, aku siap mendengarnya” tanya gua
panjang
“Kau benar-benar ingin
tahu, ya?” kata Zel sambil tersenyum menatap langit
“Ayahku dulu bekerja
di perusahaan milik ayahnya Ervin, saat itu ayahku jatuh sakit dan kami pun
tidak punya biaya untuk membayar rumah sakit. Karna itu, Ervin memintaku untuk
selalu ditemani sebagai ganti biaya rumah sakit dan ayahku pun memperbolehkan.
Sekarang, ayah sudah tiada, tidak banyak yang tahu tentang ini. Ervin juga
semakin mengekangku, ibu ku pun tak bisa apa-apa. Karna itu juga aku terpaksa
bersama dia” jelas Zel sambil meneteskan air mata
“Aku sebenarnya juga
tidak mau bersama Ervin, dan mungkin kamu heran karna ini kan?”
Gua yang mendengar itu
pun hanya terdiam. Kemudian Zel duduk persis di sebelah gua, lalu menyenderkan
kepalanya di samping bahu.
“Deon, kalau saja
Ervin sepertimu, mungkin aku bahagia” kata Zel menangis
“Karna itu, aku selalu
memintamu untuk tersenyum. Aku tidak tahu apa yang akan Ervin perbuat
kedepannya”
Mendengar cerita Zel, gua sangat
tersentuh dan sedih. Rasanya, gua juga ingin berada di posisi Ervin, pasti gua
akan menjaga Zel, bukan mengekangnya seperti ini.
“Zel.. sebenarnya aku
iri terhadap Ervin. Aku ingin menjadi orang yang selalu dekat, menjadi orang
yang selalu mengantarmu pulang. Aku minta maaf aku terlalu diam selama ini”
jelas gua panjang
Zel hanya tersenyum.
“Aku.. mencintaimu
Zel.. Zel Tamara”
Zel kemudian
mengangkat kepalanya dari bahu gua dan menatap ke arah gua.
“Kamu benar-benar
berubah ya..” kata Zel tersenyum
“Baru sekarang ini,
aku, melihat Deon seperti ini. Rasanya seperti tidak mungkin tapi ternyata kau
mampu”
Setelah bicara seperti itu,
tiba-tiba masuklah beberapa lelaki ke atas rooftop. Ternyata mereka orang-orang
yang disuruh Ervin untuk menjagai Zel. Melihat itu, gua langsung berdiri dan
pergi mengajak Zel meninggalkan orang-orang itu. Bel sekolah berbunyi, Ervin
ternyata langsung masuk ke dalam kelas untuk menjemput Zel, mungkin karna
diberi tahu teman-temannya tadi.
“Sekali lagi lu
deketin Zel, lu bakal tau akibatnya” kata Ervin mengancam
Ervin langsung pergi sambil menarik tangan Zel. Dari situ, gua berjanji
dalam hati untuk menjagai Zel.
Kebetulan, besok sekolah libur karna akan diadakan persiapan untuk
festival tahunan. Gua berniat untuk mengajak Zel jalan-jalan.
“Zel, ada waktu? Aku mau ngajak jalan-jalan”
Sudah 1 hari Zel tidak
membalas pesan yang gua kirim. Gua kepikiran kemana Zel pergi.
Esok pagi nya gua
langsung nekat pergi ke rumahnya walaupun tidak ada keberanian dalam diri gua,
tapi itu yang Zel mau ke gua, berubah.
Sesampainya disana, gua bertemu
dengan ibunya dan terheran ternyata Zel belum pulang dari kemarin. Pikiran gua
makin ga karuan. Ibunya pun juga tak bisa apa-apa.
Hari berganti, hari
ini adalah hari festival tahunan di sekolah. Gua berharap Zel masuk hari ini.
Sesampainya di
sekolah, gua tidak menemukan Zel, bahkan teman-temannya pun sama. Pesan yang
mereka kirim, tidak dibalas Zel. Seharian itu, festival yang harusnya membuat
senang, masih kalah dengan kemurungan gua. Dalam benak gua, ga bisa berhenti
berpikir tentang kemana Zel.
Festival pun berakhir, saat
pulang gua juga masih memikirkan Zel.
Di tengah perjalanan,
gua melihat ke arah televise besar di sudut jalanan. Di situ dikabarkan,
seorang siswi ditemukan tewas di pinggir sungai. Gua pun tak mau berpikir yang
tidak-tidak, tapi setelah disorot, itu adalah tas yang dipake Zel. Gua terdiam
seketika. Benak yang tadinya penuh, menjadi kosong tanpa sisa. Perlahan, kaki
gua lemas ga karuan hingga akhirnya gua terduduk di jalanan. Gua menangis,
benar-benar menangis.
Beberapa saat kemudian, gua
bangun dan langsung berlari pulang. Sampai di rumah, gua langsung ke kamar dan
mengunci. Saat itu, gua, Deon, benar-benar menangis kehilangan. Kehilangan
sosok yang selalu menyemangati hari-hari gua. Orang yang selalu disenangi
banyak orang. Zel Tamara, nama yang ga akan pernah gua lupakan dalam hidup gua.
Di hari pemakaman Zel, gua hadir
menahan luka. Semua orang yang datang menangis meratapi kepergian Zel, tapi,
gua tak mau menangis. Gua selalu ingat omongan Zel, tersenyumlah.
Hari berlalu, di televisi
diungkap inisial pembunuhnya, E. Gua yang mendengar itu sangat-sangat marah
terhadap Ervin. Tapi apa boleh buat, Zel Tamara telah pergi dan takkan kembali.
Gua, akan selalu mengenang kepergian Zel, Zel Tamara.
Source image: Pinterest.com
Terima kasih telah membaca kegabutan kali ini, please comment and share kalau kalian merasa ini bagus!
Keep growing!
©2021
Jeremia Candra

Komentar
Posting Komentar